Meninggal karena virus corona, kepala suku Messias Kokama dimakamkan dengan diiringi tarian dan nyanyian. Dilansir dari Reuters, rakyat menyanyikan lagu kebangsaan Brasil dalam bahasa Ticuna, salah satu dari 14 bahasa asli yang dituturkan di pedalaman pinggiran Manaus.
Kepala suku Kokama meninggal di usia 53 tahun karena gangguan pernapasan dan komplikasi lain dari Covid-19. Ia sempat dirawat di rumah sakit utama Manaus, kota terbesar Brasil di hutan hujan Amazon. "Kami kehilangan seorang kepala suku pemberani yang berjuang membentuk model masyarakat adat dengan pendidikan dan layanan berkualitas," kata Vanderlecia Ortega yang merupakan perawat pribumi yang menangani kepala suku saat terinfeksi virus corona. Ia yang memanggil ambulans dan membawa Kokama ke rumah sakit.
Melonjaknya jumlah kasus Covid-19 di Brasil turut merembet ke rumah sakit di Manaus. Para pasien yang meninggal dikubur di pemakaman massal dan tidak boleh dihadiri lebih dari dua kerabat. Sebagai pemimpin pemukiman yang disebut Parque das Tribos, otoritas kota membuat pengecualian untuk memungkinkan masyarakat berkumpul memberi penghormatan kepada Kokama.
Peti matinya terbuat dari kayu dan dibungkus plastik, ditempatkan di sekolah yang belum selesai dibangun. Diketahui, Kepala suku Kokama telah susah payah memperjuangkan pendirian sekolah itu, namun sayangnya ajal menjemputnya lebih dulu sebelum sempat meresmikannya. Masyarakat telah setuju memberi nama sekolah itu sesuai nama kepala suku.
Kepala suku Kokama meninggal di usia 53 tahun karena gangguan pernapasan dan komplikasi lain dari Covid-19. Ia sempat dirawat di rumah sakit utama Manaus, kota terbesar Brasil di hutan hujan Amazon. "Kami kehilangan seorang kepala suku pemberani yang berjuang membentuk model masyarakat adat dengan pendidikan dan layanan berkualitas," kata Vanderlecia Ortega yang merupakan perawat pribumi yang menangani kepala suku saat terinfeksi virus corona. Ia yang memanggil ambulans dan membawa Kokama ke rumah sakit.
Melonjaknya jumlah kasus Covid-19 di Brasil turut merembet ke rumah sakit di Manaus. Para pasien yang meninggal dikubur di pemakaman massal dan tidak boleh dihadiri lebih dari dua kerabat. Sebagai pemimpin pemukiman yang disebut Parque das Tribos, otoritas kota membuat pengecualian untuk memungkinkan masyarakat berkumpul memberi penghormatan kepada Kokama.
Peti matinya terbuat dari kayu dan dibungkus plastik, ditempatkan di sekolah yang belum selesai dibangun. Diketahui, Kepala suku Kokama telah susah payah memperjuangkan pendirian sekolah itu, namun sayangnya ajal menjemputnya lebih dulu sebelum sempat meresmikannya. Masyarakat telah setuju memberi nama sekolah itu sesuai nama kepala suku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar