Pria Ini Ahlikan Pelaku Penembakan Texas Dengan Lempar Botol
Seorang korban luka penembakan massal di Walmart El Paso, Texas bernama Chris Grant menceritakan insiden tersebut, dimana dirinya mengganggu pelaku bernama Patrick Crusius dengan cara melemparkan botol ke arahnya. Dilansir dari New York Post, pelaku diketahui membawa senapan serbu AK-47. "Saya mendengar suara tembakan. Jadi saya berlari ke arah ibu saya dan berusaha melindunginya," kata Grant.
Setelah memastikan ibunya selamat, Grant mengatakan dia langsung keluar dan melihat tersangka penembakan massal yang menewaskan 22 orang itu di tempat parkir. Pria 50 tahun itu mengungkapkan, dia melihat Crusius tengah mengincar pengunjung lain. Karena itu untuk mencegahnya, dia melempar botol ke pelaku. Salah satu lemparan tepat mengenai Crusius.
Namun Grant menuturkan, dia kini yang menjadi sasaran tembak pemuda yang disebut menuliskan manifesto "rasis" itu. Grant tertembak dua kali, dengan dua peluru itu menghantam langsung rusuknya. Dia menyebut rasanya seperti seseorang menarik granat tangan tepat di punggungnya. Namun alih-alih merasa sakit karena lukanya, Grant menyatakan dia justru lebih sakit mengingat bagaimana para pengunjung memohon ampun dalam bahasa Spanyol.
Diketahui, Crusius dituntut hukuman mati karena kejahatan rasialis. Beberapa jam setelah penembakan massal di Texas, terjadi kembali insiden serupa di Dayton, Ohio. Pelaku yang merupakan pemuda 24 tahun bernama Connor Betts menyerang kawasan populer hiburan malam bernama Oregon, dan membunuh sembilan orang. Polisi menyebut Betts mengenakan pakaian pelindung dan membawa senapan dengan kapasitas magasin sekitar 100 butir. Dia tewas setelah ditembak oleh polisi kurang dari semenit.
Setelah memastikan ibunya selamat, Grant mengatakan dia langsung keluar dan melihat tersangka penembakan massal yang menewaskan 22 orang itu di tempat parkir. Pria 50 tahun itu mengungkapkan, dia melihat Crusius tengah mengincar pengunjung lain. Karena itu untuk mencegahnya, dia melempar botol ke pelaku. Salah satu lemparan tepat mengenai Crusius.
Namun Grant menuturkan, dia kini yang menjadi sasaran tembak pemuda yang disebut menuliskan manifesto "rasis" itu. Grant tertembak dua kali, dengan dua peluru itu menghantam langsung rusuknya. Dia menyebut rasanya seperti seseorang menarik granat tangan tepat di punggungnya. Namun alih-alih merasa sakit karena lukanya, Grant menyatakan dia justru lebih sakit mengingat bagaimana para pengunjung memohon ampun dalam bahasa Spanyol.
Diketahui, Crusius dituntut hukuman mati karena kejahatan rasialis. Beberapa jam setelah penembakan massal di Texas, terjadi kembali insiden serupa di Dayton, Ohio. Pelaku yang merupakan pemuda 24 tahun bernama Connor Betts menyerang kawasan populer hiburan malam bernama Oregon, dan membunuh sembilan orang. Polisi menyebut Betts mengenakan pakaian pelindung dan membawa senapan dengan kapasitas magasin sekitar 100 butir. Dia tewas setelah ditembak oleh polisi kurang dari semenit.
















0 komentar: