Beginilah Cara Kerja Bioskop Untuk Penyandang Tunanetra Di China

Dengan bantuan tongkat putih dan sebuah peta yang dapat "berbicara?, seorang pria bernama Zhang Xinsheng menempuh perjalanan selama dua jam untuk menonton film bersama teman-temannya di sebuah bioskop di Qianmen, Beijing. Diketahui, Zhang kehilangan penglihatannya pada awal usia dua puluhan karena kondisi degeneratif. Namun, sejak menjadi tunanetra ia jatuh hati pada dunia sinema lewat klub "talking film?, di mana sukarelawan memberikan narasi yang jelas kepada pengunjung tunanetra atau buta parsial.
Tak sedikit penonton yang datang ke pemutaran film hari Sabtu yang diselenggarakan oleh bioskop Xin Mu, yang terdiri dari sekelompok relawan yang pertama kali memperkenalkan film kepada tunanetra di China. Metode yang digunakan cukup sederhana. Seorang narator mendeskripsikan apa yang terjadi di layar, termasuk ekspresi wajah, bahasa tubuh, latar belakang, dan pakaian. Mereka juga menjelaskan petunjuk visual yang mungkin terlewatkan. Seperti perubahan pemandangan dari daun-daun berguguran menjadi salju yang menggambarkan proses berjalannya waktu.
Wang Weili, sang narator, menggambarkan apa yang terjadi di layar seperti ini: "Salju turun di London, sebuah kota di Inggris. (Kota itu) agak mirip dengan Beijing, tapi bangunan-bangunannya tidak terlalu tinggi,? jelasnya di sela-sela dialog yang disulih suara dalam bahasa Mandarin. Wang terinspirasi untuk memperkenalkan film ke penonton tunanetra setelah menggambarkan film "The Terminator? kepada seorang teman.
Diketahui, China memiliki lebih dari 17 juta orang dengan gangguan penglihatan. Delapan juta di antaranya buta total, menurut Asosiasi Tunanetra China. Dalam beberapa dekade terakhir, kota-kota di China telah membangun jalan untuk tunanetra, menambahkan huruf braille pada panel lift, dan memperbolehkan orang tunanetra mengikuti ujian untuk pekerjaan pemerintah dan perguruan tinggi.

















0 komentar: