Facebook Twitter RSS
banner

Ratusan Biksu Shingon Membuat Diri Mereka Menjadi Mumi

Seorang biksu Jepang kuno, Kukai, mendirikan sekte Shingon yang esoteris, menanamkan ilmu gabungan unsur Buddhisme, Shintoisme, Taoisme, dan agama-agama lain, hingga membuat ratusan biksu Shingon yang masih hidup berhasil membuat diri mereka menjadi mumi dalam upaya sokushinbutsu.

Kukai yang memiliki nama anumerta Kobo Daishi beserta pengikutnya mempraktikkan Shugendo, sebuah filosofi yang didasarkan pada perolehan kekuatan spiritual melalui disiplin dan penyangkalan diri. Praktik Shugendo tersebut diwujudkan dalam upaya sokushinbutsu yang membuat mayat biksu Buddha menjadi mumi. Para biksu Buddha yang mempraktikkan sokushinbutsu percaya bahwa tindakan pengorbanannya akan memberi mereka akses ke Surga Tusita, di mana mereka akan hidup selama 1,6 juta tahun dan diberkati dengan kemampuan untuk melindungi manusia di Bumi.

Sebenarnya, gagasan mumifikasi ini dipraktikkan oleh banyak budaya di dunia dari beragam peradaban. Seperti yang ditulis Ken Jeremiah dalam buku "Living Buddhas: the Self-Mummified Monks of Yamagata, Jepang", bahwa banyak agama seluruh dunia mengakui mayat yang tidak dapat binasa sebagai tanda kemampuan luar biasa untuk berhubungan dengan kekuatan yang melampaui alam fisik manusia. Meski bukan satu-satunya sekte atau aliran agama yang mempraktikkan mumifikasi, biksu Buddha Shingon Jepang di Yamagata termasuk yang paling terkenal mempraktikkan ritual tersebut, karena beberapa praktisi mereka berhasil membuat dirinya sendiri menjadi mumi saat masih hidup.

Untuk memulai proses mumifikasi diri, para biksu akan melakukan diet yang dikenal sebagai "mokujikigy" atau makan pohon. Mereka mencari makan di hutan terdekat, memakan seperti kacang-kacangan, buah beri, akar pohon, kulit pohon, dan daun pinus. Satu sumber juga melaporkan bahwa batu sungai juga ditemukan di perut biksu yang menjadi mumi. Diet ekstrem ini memiliki dua tujuan. Pertama, itu memulai persiapan biologis tubuh untuk mumifikasi, menghilangkan lemak dan otot dari kerangka. Kedua, mencegah dekomposisi di masa depan dengan menghilangkan nutrisi dan kelembapan penting bagi bakteri alami tubuh.

Saat kematian mendekat, mereka akan beristirahat di sebuah kotak pinus kecil yang sempit, yang akan diturunkan ke dalam tanah, sekitar 10 kaki atau 3 meter di bawah permukaan tanah. Dilengkapi dengan sebatang bambu sebagai jalan napas, peti mati itu ditutupi dengan arang, meninggalkan biksu yang terkubur dengan sebuah lonceng kecil yang akan dia bunyikan untuk memberi tahu orang lain bahwa dia masih hidup. Selama berhari-hari biksu yang dikubur hidup-hidup itu akan bermeditasi dalam kegelapan total, dan membunyikan lonceng. Ketika dering lonceng berhenti, para biksu yang berada di atas tanah menganggap biksu yang dikubur telah meninggal.


SHARE THIS POST

  • Facebook
  • Twitter
  • Myspace
  • Google Buzz
  • Reddit
  • Stumnleupon
  • Delicious
  • Digg
  • Technorati
Author: admin
Lorem ipsum dolor sit amet, contetur adipcing elit, sed do eiusmod temor incidunt ut labore et dolore agna aliqua. Lorem ipsum dolor sit amet.

0 komentar:

Popular Posts