Bawa Jenazah Ke Gereja Dalam Posisi Duduk, Jenazah Ini Ditolak
Bawa jenazah ke gereja tanpa dibaringkan dalam peti mati dan dalam posisi duduk usai dibalsemkan, dua jenazah bernama Che Lewis (29) dan ayahnya Adlay Lewis (54) yang tewas dibunuh di dalam rumah mereka di Trinidad-Tobago, dilaporkan ditolak masuk ke upacara pemakaman sendiri.
Prosesi pemakaman yang tidak lazim itu melewati ibu kota Trinidad-Tobago, Port of Spain, menuju Gereja Evangelis St John di Diego Martin. Mengenakan setelan kemeja dan celana putih serta jas pink, jenazah Che ditolak masuk ke dalam gereja karena staf tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dilansir The Sun, sejumlah pelayat yang datang awalnya tidak mengira bahwa sosok yang duduk di depan adalah mayat Che. Saat itu, banyak pelayat yang mengira dia merupakan bagian dari staf pemakaman. Bahkan, ada yang mencelanya karena tak memakai masker. Tetapi, pada akhirnya jasad Che Lewis dimasukkan ke dalam peti untuk dimakamkan.
Cara eksentrik itu disebut sebagai pembalseman ekstrem. Jenazah disuntikkan dengan cairan pengawet yang membuat mereka begitu kaku. Teknik itu dilaporkan berasal dari Puerto Riko pada medio 2008-an, di mana awalnya digunakan agar mendiang mendapat waktu penghormatan terakhir lebih banyak. Permintaan itu semakin meningkat. Keluarga rela merogoh kocek hingga 2.000 poundsterling (Rp 38 juta), agar jasad kerabat mereka seolah bangkit lagi. Namun, metode ini bukannya tidak menuai reaksi negatif. Polisi menyatakan apa yang dilakukan rumah duka sangat tidak bertangung jawab. Mereka menyatakan bakal menggelar penyelidikan dengan ancaman denda 750 poundsterling (Rp 14,2 juta) menanti jika terbukti bersalah.
Prosesi pemakaman yang tidak lazim itu melewati ibu kota Trinidad-Tobago, Port of Spain, menuju Gereja Evangelis St John di Diego Martin. Mengenakan setelan kemeja dan celana putih serta jas pink, jenazah Che ditolak masuk ke dalam gereja karena staf tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Dilansir The Sun, sejumlah pelayat yang datang awalnya tidak mengira bahwa sosok yang duduk di depan adalah mayat Che. Saat itu, banyak pelayat yang mengira dia merupakan bagian dari staf pemakaman. Bahkan, ada yang mencelanya karena tak memakai masker. Tetapi, pada akhirnya jasad Che Lewis dimasukkan ke dalam peti untuk dimakamkan.
Cara eksentrik itu disebut sebagai pembalseman ekstrem. Jenazah disuntikkan dengan cairan pengawet yang membuat mereka begitu kaku. Teknik itu dilaporkan berasal dari Puerto Riko pada medio 2008-an, di mana awalnya digunakan agar mendiang mendapat waktu penghormatan terakhir lebih banyak. Permintaan itu semakin meningkat. Keluarga rela merogoh kocek hingga 2.000 poundsterling (Rp 38 juta), agar jasad kerabat mereka seolah bangkit lagi. Namun, metode ini bukannya tidak menuai reaksi negatif. Polisi menyatakan apa yang dilakukan rumah duka sangat tidak bertangung jawab. Mereka menyatakan bakal menggelar penyelidikan dengan ancaman denda 750 poundsterling (Rp 14,2 juta) menanti jika terbukti bersalah.
















0 komentar: