Tim Paduan Suara Indonesia Raih Juara Umum di Spanyol
Kelompok paduan suara Batavia Modrigal Singers (BMS) mengharumkan nama Indonesia di Spanyol. Grup pimpinan konduktor Avip Priatna itu menyabet gelar juara umum di kompetisi paduan suara internasional Tolosa Choral Contest ke-48 di Tolosa, Spanyol.
BMS juga meraih Juara Pertama kategori Polyphony serta Juara Pertama kategori Basque Songs & Popular Music/Folklore. Tapi tentu saja, buah manis yang dipetik itu tidak tanpa jerih payah. Kelompok yang kini dadanya dipenuhi rasa bangga itu, menempuh perjuangan panjang.
Monika Ade Ayu, salah satu anggota, misalnya. Selain anggota BMS, wanita yang akrab disapa Monik itu juga pekerja di perusahaan teknologi. Ia harus pintar-pintar mengatur waktu di tengah kedisiplinan latihan rutin yang jadwalnya ketat, dan waktunya untuk bekerja.
"Persiapan kami 10 bulan dengan sejumlah rangkaian acara konser sampai ke kompetisi di Tolosa. Latihan keras efektif lima hari, itu tidak hanya akhir pekan. Kami latihan dari pukul 19.30 WIB dan berlangsung tiga sampai empat jam," Monik menceritakan pengalamannya.
Ia menambahkan, Bayangkan kami bangun, pergi ngantor, pulang kerja harus latihan sampai jam 11 [malam]. Sampai rumah jam 12 [tengah malam] dan besok harus kerja lagi.
Tapi Monik memahami, ia memang butuh latihan ketat dan panjang. Itu konsekuensi sebagai penyanyi yang bukan dari kalangan profesional. Butuh jam kerja tinggi untuk menggembleng diri sehingga terbiasa manggung. Untuk menyeimbangkan, tinggal butuh manajemen waktu.
"Selain waktu juga berkorban banyak, kayak acara keluarga," ujar pemilik suara sopran itu.
Perjuangan BMS tak berhenti hanya sampai latihan saja. Mereka juga harus mengatur waktu saat kompetisi tiba. Sebab di Spanyol, kelompok semi profesional yang anggotanya berasal dari berbagai latar belakang itu bukan sekadar berkompetisi. Selama pekan itu, mereka juga mengamen di beberapa kota di sekitarnya seperti Beasain, San Sebastian dan Pamplona.
"Kami bertanding hanya satu hari, sisanya konser. Seharusnya enam kali, tapi karena menggantikan Filipina di satu kota jadi tujuh. Lokasinya jauh dari tengah kota, butuh dua jam tanpa macet untuk sampai, jadi bangun, makan, latihan, tampil," ujar Rainier Ravireno.
Namun anggota BMS yang akrab disapa Pepi itu menambahkan, kondisi itu ada positifnya. Karena sering tampil, BMS jadi lebih siap untuk pentas, dalam kondisi apa pun.
Dan saat konser, lagu-lagu kompetisi juga yang dibawakan. Jadi waktu bertemu langsung dengan warga sana, mereka sangat mengapresiasi," katanya melanjutkan. Bukan hanya menerima standing ovation, warga juga ikut berdiri saat BMS menyanyikan lagu dengan bahasa mereka.
Memilih lagu memang menjadi salah satu pertimbangan penting Avip dan BMS. Bagi Avip, itu termasuk strategi. Mereka harus pintar-pintar memilih lagu di luar lagu wajib, yang cukup memukau juri saat kompetisi tetapi juga tidak terlalu sulit serta membuat peserta stres.
















0 komentar: