3 Hacker Surabaya Ditangkap Karena Bobol Situs Keamanan 44 Negara
Tiga mahasiswa STIKOM Surabaya, Jawa Timur baru saja membuat heboh, karena mereka nekat menjebol sistem keamanan digital di 44 negara, termasuk milik pemerintah Amerika Serikat (AS).

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono menyebut tersangka NA (21), KPS (21), dan ATP (21), menjebol 600 situs di 44 negara.
Mereka melancarkan aksinya menggunakan metode SQL injection untuk merusak database. Argo mencontohkan, mereka mampu meretas sistem keamanan IT perusahaan di Indonesia, kemudian mengirimkan peringatan melalui surat elektronik. Para pelaku meminta tebusan ke perusahaan tersebut, jika sistem IT perusahaan yang diretas ingin dipulihkan seperti semula.
"Minta uang Rp 20 juta sampai Rp 30 juta. Itu dikirim via PayPal. Kalau tidak mau bayar sistem dirusak," ujar Argo.
Sementara itu, Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, AKBP Roberto Pasaribu menambahkan bahwa kasus tersebut terungkap setelah menerima informasi dari pusat pelaporan kejahatan di New York, Amerika Serikat.
Menurut laporan itu, puluhan sistem di berbagai negara mengalami kerusakan. Setelah ditelusuri, pelakunya menggunakan IP Address yang berada di Indonesia, tepatnya Surabaya. "Kita kerjasama dan mendapat informasi itu. Kita analisa sampai dua bulan berdasarkan informasi dari FBI (Biro Penyelidik Federal Amerika Serikat)," ujar Roberto.
Roberto menerangkan, tindakan yang dilakukan ketiga mahasiswa itu bisa memicu cyber war, sebab mereka juga meretas sistem pemerintah Amerika Serikat.
Ketiganya merupakan anggota komunitas Surabaya Black Hat (SBH). Rama Zeta, penasehat SBH membenarkan Katon Primadi Sasmitha (21), Nizar Ananta (21), dan Arnold Triwardhana Panggau (21) merupakan anggota komunitasnya. Namun menurutnya, ketiga orang tersebut sudah tidak aktif di SBH mulai awal tahun ini. (tribun)

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono menyebut tersangka NA (21), KPS (21), dan ATP (21), menjebol 600 situs di 44 negara.
Mereka melancarkan aksinya menggunakan metode SQL injection untuk merusak database. Argo mencontohkan, mereka mampu meretas sistem keamanan IT perusahaan di Indonesia, kemudian mengirimkan peringatan melalui surat elektronik. Para pelaku meminta tebusan ke perusahaan tersebut, jika sistem IT perusahaan yang diretas ingin dipulihkan seperti semula.
"Minta uang Rp 20 juta sampai Rp 30 juta. Itu dikirim via PayPal. Kalau tidak mau bayar sistem dirusak," ujar Argo.
Sementara itu, Kasubdit Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Metro Jaya, AKBP Roberto Pasaribu menambahkan bahwa kasus tersebut terungkap setelah menerima informasi dari pusat pelaporan kejahatan di New York, Amerika Serikat.
Menurut laporan itu, puluhan sistem di berbagai negara mengalami kerusakan. Setelah ditelusuri, pelakunya menggunakan IP Address yang berada di Indonesia, tepatnya Surabaya. "Kita kerjasama dan mendapat informasi itu. Kita analisa sampai dua bulan berdasarkan informasi dari FBI (Biro Penyelidik Federal Amerika Serikat)," ujar Roberto.
Roberto menerangkan, tindakan yang dilakukan ketiga mahasiswa itu bisa memicu cyber war, sebab mereka juga meretas sistem pemerintah Amerika Serikat.
Ketiganya merupakan anggota komunitas Surabaya Black Hat (SBH). Rama Zeta, penasehat SBH membenarkan Katon Primadi Sasmitha (21), Nizar Ananta (21), dan Arnold Triwardhana Panggau (21) merupakan anggota komunitasnya. Namun menurutnya, ketiga orang tersebut sudah tidak aktif di SBH mulai awal tahun ini. (tribun)
















0 komentar: