Tak Peroleh Vaksin, Remaja AS Ini Terpaksa Menentang Ibunya

Tidak memperoleh vaksinasi lantaran sang ibu yang menilai imunisasi berbahaya, hingga membuat remaja berusia 18 tahun bernama Ethan Lindenberger tak berdaya melawan tetanus, polio, dan campak. Remaja ini terpaksa menentang ibunya.
Pada Desember 2018, Ethan Lindenberger diinokulasi, sebuah aksi pemberontakan yang kemudian membuatnya diundang ke Kongres AS. Lindenberger melakukan penelitian untuk mengumpulkan informasi untuk membela bahwa vaksin lebih penting ketimbang gerakan anti-vaksin. Dia mempelajari laporan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit, mengunjungi situs web organisasi kesehatan masyarakat, dan meneliti jurnal ilmiah.
Dilansir dari Washington Post, Ethan Lindenberger menunjukkan kepada ibunya artikel tentang vaksin campak, gondok, dan rubela, ternyata tidak menarik antusias sang ibu. "Begitulah yang mereka ingin kamu pikirkan," kata ibunya, seperti yang dikatakan Lindenberger. Meski vaksin wajib diberikan kepada anak-anak untuk bersekolah, hampir semua negara bagian di AS mengizinkan orangtua mematuhinya. Alasannya, jika vaksin tersebut dirasa bertentangan dengan agama, moral, atau masalah pribadi, termasuk di negara bagian tempat tinggal Lindenberger, Ohio.
"Orangtua saya tidak percaya pada vaksin. Sekarang, saya berusia 18 tahun, ke mana saya harus mendapat vaksinasi?" tulisnya. Segera setelah itu, dia mendapat ribuan tanggapan dan media AS menghubunginya. Akhirnya, Lindenberger mendapat vaksinasi hepatitis A dan B, influenza, tetanus, dan papillomavirus. Dia juga telah menerima vaksin MMR dan polio.
Para pejabat kesehatan sedang berjuang untuk meyakinkan sejumlah orang yang menolak vaksinasi bagi anak-anak mereka sehingga memicu meningkatnya campak. Seruan untuk gerakan imunisasi meningkat di tengah wabah campak terburuk di beberapa negara bagian AS, termasuk Washington.
















0 komentar: