Tolak Pembangunan Tol Di Yogyakarta, Ini Kata Sultan HB ke 10
[split]Pemerintah akan membangun sejumlah ruas tol yang akan melewati Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Namun, terkait rencana pembangunan jalan tol tersebut mendapat pro dan kontra.
Hal itu dilontarkan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang menyatakan, pihaknya menolak pembangunan jalan tol di wilayahnya. Ia mengkhawatirkan adanya jalan tol bisa mengganggu perekonomian masyarakat nantinya.

"Di Yogya tak ada jalan tol. Pemerintah pusat juga sepakat," kata Sultan saat acara Syawalan.
Menurut dia, terbatasnya ruang terbuka di Yogyakarta tidak memungkinkan dibangun jalan bebas hambatan yang tertutup dan tak semua orang bisa masuk.
"Saya tidak setuju adanya jalan tol karena rakyat tidak akan mendapatkan apa-apa, diperlebar silakan tetapi jangan ditol. Tol sing untung ming (menguntungkan) yang membuat tol, tetapi rakyat di sekelilingnya (tak dapat apa-apa) karena jalan ditutup," ucapnya.

Next: Kementerian PUPR Janji Ajak Dialog
#split#Kementerian PUPR berjanji akan mengajak masyarakat dan Sultan berdialog untuk mencari solusi terbaik.
"Kami akan cari solusi, intinya kan beliau yang ditolak kan menggunakan lahan yang ada, termasuk Solo-Jogja itu kan yang ditawarkan menggunakan elevated atau di atas posisi tol nya,'' ungkap Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR, Ari Setiadi Moerwanto.
Menurut Ari, kehadiran jalan tol di Yogyakarta dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, khususnya di sektor pariwisata.

Selama ini, wilayah Yogyakarta terkenal dengan berbagai macam wisatanya, seperti Borobudur dan Malioboro. Dengan adanya jalan tol tersebut, diharapkan arus perjalanan turis dapat lebih singkat.
"Karena jarak-jarak wisata Yogyakarta itu kan kurang lebih dua jam ya. Buat turis itu dua jam itu bisa diterima tidak ada masalah," kata dia.
Sultan memikirkan rakyatnya, semoga mendapatkan solusi yang baik :please:[/split]
Hal itu dilontarkan oleh Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang menyatakan, pihaknya menolak pembangunan jalan tol di wilayahnya. Ia mengkhawatirkan adanya jalan tol bisa mengganggu perekonomian masyarakat nantinya.
"Di Yogya tak ada jalan tol. Pemerintah pusat juga sepakat," kata Sultan saat acara Syawalan.
Menurut dia, terbatasnya ruang terbuka di Yogyakarta tidak memungkinkan dibangun jalan bebas hambatan yang tertutup dan tak semua orang bisa masuk.
"Saya tidak setuju adanya jalan tol karena rakyat tidak akan mendapatkan apa-apa, diperlebar silakan tetapi jangan ditol. Tol sing untung ming (menguntungkan) yang membuat tol, tetapi rakyat di sekelilingnya (tak dapat apa-apa) karena jalan ditutup," ucapnya.
Next: Kementerian PUPR Janji Ajak Dialog
#split#Kementerian PUPR berjanji akan mengajak masyarakat dan Sultan berdialog untuk mencari solusi terbaik.
"Kami akan cari solusi, intinya kan beliau yang ditolak kan menggunakan lahan yang ada, termasuk Solo-Jogja itu kan yang ditawarkan menggunakan elevated atau di atas posisi tol nya,'' ungkap Direktur Jenderal Bina Marga Kementerian PUPR, Ari Setiadi Moerwanto.
Menurut Ari, kehadiran jalan tol di Yogyakarta dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat, khususnya di sektor pariwisata.
Selama ini, wilayah Yogyakarta terkenal dengan berbagai macam wisatanya, seperti Borobudur dan Malioboro. Dengan adanya jalan tol tersebut, diharapkan arus perjalanan turis dapat lebih singkat.
"Karena jarak-jarak wisata Yogyakarta itu kan kurang lebih dua jam ya. Buat turis itu dua jam itu bisa diterima tidak ada masalah," kata dia.
Sultan memikirkan rakyatnya, semoga mendapatkan solusi yang baik :please:[/split]
















0 komentar: