PROFESSOR BENCANA KEMBALI BERAKSI
Ditengah Gempa
Guru Besar Bedah, Terjun
Langsung Pimpin Operasi
Ahad malam (5/8/2018) terjadi gempa di Lombok Utara berskala hingga 7 SR, Senin siang kami harus berangkat ke sana. Koordinasi sana sini, menyiapkan alat kesehatan (alkes). Dengan membawa pakaian secukupnya, akhirnya kami jadi juga berangkat meskipun kepastian dapat tiket, baru didapat sekitar jam 10.00 pagi.

Kami diberangkatkan oleh tim Ikabi, PSC 119 Makassar dr. Nuralim, PSC Pinrang,Palopo,Sulbar dan Sinjai.
Di bandara ketemu Prof. Idrus A Paturusi, hati kami mulai tenang. Kami selalu berfikir jika ada beliau Insya Allah urusan beres. Ternyata dibandara ketemu dengan beberapa tim relawan, dari RS Wahidin, Dompet Duafa, PSC Pinrang,Palopo,Sulbar dan Sinjai.
Rombongan gabungan total berjumlah 21 orang, mendarat di Bandara Lombok sekitar jam 17.00 WIT. Kami langsung menuju RSUD Propinsi NTB, ketemu dengan direktur Rumah Sakit. Disini saya melihat dan mendapat pelajaran berharga dari beliau, langsung tinjau lokasi. Setelah keliling lihat ruang perawatan, dipimpin Prof Idrus kami masuk kamar operasi bedah sentral.
Kami lihat seluruh ruangan sepi, rupanya sering ada gempa susulan sehingga kegiatan di sini dihentikan dan dialihkan ke kamar operasi emergensi. Setelah keliling lihat semua kamar operasi beliau berkata, sedikit memerintah: Kita harus segera operasi disini. Saya yakin ini OK aman. Bangunan ini kuat hanya retak-retak. Tutur Prof Idrus.
Sambil jalan kami dibriefing: kita harus kasih contoh. Kalau kita berani operasi, pasti semua ikut. Beri keyakinan bahwa gedung ini bisa dipakai operasi, tidak usah operasi di luar. Tidak usah takut, ayo kita mulai, demikian beliau bicara sambil jalan menuju ruang pertemuan.
Disela briefing tengah malam sambil berdiri, Prof Idrus koordinasi telponan dengan Kapuskes TNI, Kapuskesad TNI dan Karumkit RSPAD Gatot Subroto. Luar biasa, beliau dengan santai bisa bicara dengan 3 Mayor Jenderal sampai subuh.
Alhamdulillah seluruh kebutuhan tim untuk operasi diangkut pakai pesawat Herkules dari Jakarta.
Beliau juga tak henti-henti telpon dengan beberapa pusat pendidikan di Jakarta, Surabaya, Jogja, Bali dll. Inilah karena Prof Idrus banyak teman-teman hingga mudah komunikasi. Akhirnya banyak tim dan alat yang berdatangan.
Pagi-pagi kami bangun melaksanakan rapat darurat bersama direktur RS,komite medic, Kapuskes, Kapuskesad dan seluruh tim relawan yang hadir karena rencana semalam buyar semua akibat ada gempa susulan sehingga pasien panik dan semua berhamburan lari ke halaman rumah sakit.
Operasi Ditengah Gempa
Di sini saya untuk kesekian kalinya melihat kepiyawaian beliau memimpin rapat, cepat, tepat tanggap. Pagi-pagi kami sudah bisa operasi meskipun operasi sambil goyang-goyang karena gempa susulan yang terus seakan tiada henti.
Saya kagum, Prof Idrus, bukan hanya jago pimpin rapat dan koordinasi tapi yang luar biasa, beliau masih mampu operasi seperti waktu beliau masih muda. Guru besar bedah terjun langsung pimpin operasi.
Beliau senyum-senyum saja meskipun meja operasi berayun digoyang gempa.
Beliau bilang: Tenang mako, biasa ji ini. Pokoknya kalau ada gempa susulan, kita disini aja tidak usah lari, katanya.
Senang bisa mendampingi beliau sebagai dokter anestesi. Motivasi yang luar biasa. Yah saya menjadi saksi sang Professor bencana kembali beraksi.
#Catatan Ketua Umum Gerakan Masyarakat Peduli Anak Dan Remaja Indonesia (Gempari), Patrika S Andi Paturusi (Anggie).
Guru Besar Bedah, Terjun
Langsung Pimpin Operasi
Ahad malam (5/8/2018) terjadi gempa di Lombok Utara berskala hingga 7 SR, Senin siang kami harus berangkat ke sana. Koordinasi sana sini, menyiapkan alat kesehatan (alkes). Dengan membawa pakaian secukupnya, akhirnya kami jadi juga berangkat meskipun kepastian dapat tiket, baru didapat sekitar jam 10.00 pagi.

Kami diberangkatkan oleh tim Ikabi, PSC 119 Makassar dr. Nuralim, PSC Pinrang,Palopo,Sulbar dan Sinjai.
Di bandara ketemu Prof. Idrus A Paturusi, hati kami mulai tenang. Kami selalu berfikir jika ada beliau Insya Allah urusan beres. Ternyata dibandara ketemu dengan beberapa tim relawan, dari RS Wahidin, Dompet Duafa, PSC Pinrang,Palopo,Sulbar dan Sinjai.
Rombongan gabungan total berjumlah 21 orang, mendarat di Bandara Lombok sekitar jam 17.00 WIT. Kami langsung menuju RSUD Propinsi NTB, ketemu dengan direktur Rumah Sakit. Disini saya melihat dan mendapat pelajaran berharga dari beliau, langsung tinjau lokasi. Setelah keliling lihat ruang perawatan, dipimpin Prof Idrus kami masuk kamar operasi bedah sentral.
Kami lihat seluruh ruangan sepi, rupanya sering ada gempa susulan sehingga kegiatan di sini dihentikan dan dialihkan ke kamar operasi emergensi. Setelah keliling lihat semua kamar operasi beliau berkata, sedikit memerintah: Kita harus segera operasi disini. Saya yakin ini OK aman. Bangunan ini kuat hanya retak-retak. Tutur Prof Idrus.
Sambil jalan kami dibriefing: kita harus kasih contoh. Kalau kita berani operasi, pasti semua ikut. Beri keyakinan bahwa gedung ini bisa dipakai operasi, tidak usah operasi di luar. Tidak usah takut, ayo kita mulai, demikian beliau bicara sambil jalan menuju ruang pertemuan.
Disela briefing tengah malam sambil berdiri, Prof Idrus koordinasi telponan dengan Kapuskes TNI, Kapuskesad TNI dan Karumkit RSPAD Gatot Subroto. Luar biasa, beliau dengan santai bisa bicara dengan 3 Mayor Jenderal sampai subuh.
Alhamdulillah seluruh kebutuhan tim untuk operasi diangkut pakai pesawat Herkules dari Jakarta.
Beliau juga tak henti-henti telpon dengan beberapa pusat pendidikan di Jakarta, Surabaya, Jogja, Bali dll. Inilah karena Prof Idrus banyak teman-teman hingga mudah komunikasi. Akhirnya banyak tim dan alat yang berdatangan.
Pagi-pagi kami bangun melaksanakan rapat darurat bersama direktur RS,komite medic, Kapuskes, Kapuskesad dan seluruh tim relawan yang hadir karena rencana semalam buyar semua akibat ada gempa susulan sehingga pasien panik dan semua berhamburan lari ke halaman rumah sakit.
Operasi Ditengah Gempa
Di sini saya untuk kesekian kalinya melihat kepiyawaian beliau memimpin rapat, cepat, tepat tanggap. Pagi-pagi kami sudah bisa operasi meskipun operasi sambil goyang-goyang karena gempa susulan yang terus seakan tiada henti.
Saya kagum, Prof Idrus, bukan hanya jago pimpin rapat dan koordinasi tapi yang luar biasa, beliau masih mampu operasi seperti waktu beliau masih muda. Guru besar bedah terjun langsung pimpin operasi.
Beliau senyum-senyum saja meskipun meja operasi berayun digoyang gempa.
Beliau bilang: Tenang mako, biasa ji ini. Pokoknya kalau ada gempa susulan, kita disini aja tidak usah lari, katanya.
Senang bisa mendampingi beliau sebagai dokter anestesi. Motivasi yang luar biasa. Yah saya menjadi saksi sang Professor bencana kembali beraksi.
#Catatan Ketua Umum Gerakan Masyarakat Peduli Anak Dan Remaja Indonesia (Gempari), Patrika S Andi Paturusi (Anggie).
















0 komentar: